Monday, February 6, 2012

Kedudukan Manusia dan Pendidikan



MAKALAH
ILMU PENDIDIKAN
KEDUDUKAN MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN
 Dosen pembimbing : Drs. H. Fakhrurrazi Rusli. M.Pd




 






Disusun oleh: Arif Ridiawan
N I M : TE110551
                                                                           
JURUSAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI   
 SULTAN THAHA SAIFUDIN
JAMBI 2011




KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt, Rabb semesta alam. Tidak ada daya dan upaya selain dari Nya. Semoga kita selalu dilimpahkan rahmat dan karunia Nya dalam mengarungi kehidupan ini.
Salawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman di manapun mereka berada.
Alhamdulillah dengan izin dan kehendak dari Nyalah, sehingga makalah ini dapat kami selesaikan. Makalah ini kami beri judul “Kedudukan Manusia dan Pendidikan. Dalam makalah dijelaskan tentang Perkembangan Arti Pendidikan, Faktor-faktor Pendidikan, Dasar-dasar Pendidikan Sosial dan Kedudukan Manusia dan Pendidikan, . Dengan penjelasan dalam makalah ini diharapkan kepada para pembaca lebih memahami tentang Kedudukan Manusia dan Pendidikan dan supaya dapat menjadi nilai tambah dalam mempelajari masyarakat.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan gambaran tentang materi yang harus selesaikan dan juga semua pihak yang turut membantu menyelesaikan makalah ini.
Terakhir, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini lebih sempurna pada masa yang akan datang.

                                                                        Jambi,       November  2011


                                                                                Penyusun




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB    I          PENDAHULUAN
1. 1            Latar Belakang................................................................ 1
1. 2            Rumusan Masalah........................................................... 2
1. 3            Tujuan Penulisan ............................................................. 2
1. 4            Pembatasan Masalah ...................................................... 2
1. 5            Metode Penulisan ........................................................... 2
1. 6            Sistematika Penulisan....................................................... 3
BAB    II         PEMBAHASAN
2.1              Perkembangan Arti Pendidikan ....................................... 4
2.2              Dasar-dasar Pendidikan Sosial......................................... 5
2.3              Faktor-faktor Pendidikan................................................. 7
2.4              Kedudukan Manusia dan Pendidikan .............................. 10
BAB    III       PENUTUP
3.1              Simpulan ........................................................................ 14
3.2              Saran ............................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 15



BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Pendidikan, dalam arti usaha sadar dan terencana mewujudkan proses belajar sepajang hayat, menyentuh semua sendi kehidupan, semua lapisan masyarakat, dan segala usia. Jati diri itu pula yang menyenbabkan semua orang merasa terlibat dan semua merasa bisa dalam masalah pendidikan dengan salah satu fenomena, praktis pendidikan di negara mana pun, termasuk Indonesia, tidak pernah lekang dari kritik. Walaupun dari sisi lain fenomena itu bisa berupa jatuh dalam kebiasaan “tanpa lebih dulu memahami duduk soal, tanpa menempatkan dalam kepentingan lebih luas, orang bersikap asal beda dengan kebijakan pemerintah.
Banyaknya teori yang berangkat dari spekulasi berfikir maupun teori yang berangkat dari praktik langsung di lapangan, dari sisi pendidikan yang disempitkan, praktik persekolahan hingga pendidikan sebagai bagian dari demokratisasi menunjukkan rasa memiliki yang tinggi.
Di pihak lain, model pendidikan yang hanya mementingkan kecerdasan otak ketimbang kecerdasan emosi dan spiritual, tampaknya telah menimbulkan masalah di masyarakat. Pendidikan dasar dan menengah yang seharusnya menjadi basis penyemaian dan penyuburan nilai-nilai luhur dalam dimensi sosial, budaya, dan kemanusiaan kepada anak didik, menjadi kurang greget dan tidak berdaya akibat tidak relevannya antara tuntutan kurikulum dan perkembangan kondisi sosial budaya, baik lokal, nasional, maupun global. Dunia pendidikan saat ini membutuhkan sebuah konsep dan strategi yang integral,yang bisa “mendidik” seluruh aspek kemanusiaan manusia dalam menghadapi tantangan arus budaya dan sosial yang demikian gencar karena perkembangan teknologi informasi yang sangat tepat. Kearifsn budaya Indonesia yang dibangun nenek moyang kita, seperti sikap sabar, welas kasih, gotong royong, dan menghormati orang tua bisa menjadi landasan moral dalam mengembangkan pendidikan di tengah arus informasi global yang tampaknya kurang memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang dasariah.
1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian singkat dalam latar belakang, pemakalah mengajukan permasalahan sebagai berikut:
a.       Apa pengertian Ilmu Pendidikan?
b.      Apa saja yang menjadi dasar Pendidikan Sosial?
c.       Apa saja faktor-faktor Pendidikan?
d.      Bagaimana  Kedudukan Manusia dan Pendidikan?

1.3              Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
a.       Menjelaskan pengertian Ilmu Pendidikan.
b.      Menjelaskan dan menyebutkan dasar-dasar pendidikan sosial.
c.       Menjelaskan dan menyebutkan faktor-faktor pendidikan.
d.      Menjelaskan kedudukan Manusia dan Pendidikan.

1.4              Pembatasan Masalah
Pembatasan Masalah dipaparkan dengan maksud untuk menghindari kesalahpahaman dan kekaburan pengertian serta memberikan gambaran mengenai ruang lingkup dalam penulisan, meliputi : Perkembangan Arti Pendidikan, Faktor-faktor Pendidikan, Dasar-dasar Pendidikan Soaial dan Kedudukan Manusia dan Pendidikan.

1.5              Metode Penulisan
Metode yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data dalam penulisan makalah  ini Berdasarkan pengumpulan data yang bersifat deskriptif kualitatif, maka data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis secara induktif, yaitu proses analisis dengan tekhik analisis fakta-fakta yang terpisah-pisah menjadi suatu rangkaian hubungan atau suatu generalisasi, maksudnya, setelah mengumpulkan data yang berasal dari buku-buku referensi, kemudian dikumpulkan dan dirangkai sesuai dengan tujuan penulisan  dan analisis untuk menarik kesimpulan.

1.6              Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pokok permsalahan, maka penulis menysun makalah ini dengan sistematika sebagai berikut:
BAB    I           PENDAHULUAN
1. 7            Latar Belakang
1. 8            Rumusan Masalah
1. 9            Tujuan Penulisan
1. 10        Pembatasan Masalah
1. 11        Metode Penulisan
1. 12        Sistematika Penulisan
BAB   II         PEMBAHASAN
2.1              Perkembangan Arti Pendidikan
2.2              Dasar-dasar Pendidikan Sosial
2.3              Faktor-faktor Pendidikan
2.4              Kedudukan Manusia dan Pendidikan
BAB    III       PENUTUP
3.1              Simpulan
3.2              Saran
DAFTAR PUSTAKA



BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Perkembangan Arti Pendidikan
Dahulu pengertian pendidikan dan berbagai tujuannya itu secara tradisional lebih ditekankan pada perbuatan murid daripada ilmu pengetahuannya. Oleh karena itu, tanggung jawab sekolah hanyalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para  siswa dengan cara menghafal lantas mendemonstrasikan hafalannya di hadapan guru. Hal itu dimaksudkan untuk mempersiapkan mereka agar berhasil dalam menghadapi ujian akhir nanti.
Jadi pendidikan tersebut lebih banyak menekankan pada kerja akal pikiran yang berupa hafalan dan kurang memperhatikan segi-segi kepribadian, kemasyarakatan, kejiwaan, fisik dan mental. Demikian juga, lemah sekali perhatiannya terhadap berbagai macam keterampilan maupun tingkah laku. Sehingga  kebebasan  dan kretifitas pengajar yang senantiasa ingin berusaha, menjadi terikat pada studi bidang-bidang kemasyarakatan saja.
Dengan adanya perkembangan arti pendidikan yang mengarah kepada pengertian yang lebih lengkap, maka seorang murid akan lebih banyak memahami ilmu pengetahuan dan kehidupan kemasyarakatan maupun lain-lainnya. Karena itulah, sebenarnya metode itu tak lain adalah himpunan dari berbagai pengalaman pendidikan yang meliputi masalah ilmu pengetahuan, kemasyarakatan, olah raaga, kejiwaan dan lain sebagainya yang harus dikerjakan manusia, tidak saja untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang cukup, akan tetapi juga untuk mendapatkan berbagai macam keterampilan maupun aneka ragam tingkah laku yang baik dan sesuai dengan tujuan kehidupan masyarakat, tradisi maupun berbagai macam nilai sosial lainnya.
Oleh karena itu, maka tujuan pokok pendidikan ialah membentuk anggota masyarakat menjadi orang-orang yang berpribadi, berprikemanusiaan maupun menjadi anggota masyarakat yang dapat mendidik dirinya sesuai dengan watak masyarakat itu sendiri, mengurangi beberapa kesulitan/ hambatan perkembangan hidupnya dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun mengatasi problematikanya.
2.2              Dasar-dasar Pendidikan Sosial
Setiap masyarakat mesti merasa perlu sekali di dalam menetapkan tujuan-tujuan pendidikan, metode-metode pengajarannya maupun teknik-tekniknya itu disesuaikan dengan berbagai kebutuhan hidup masyarakat tersebut, kekayaan yang dimilikinya maupun tradisi-tradisi ilmu pengetahuan yang dianutnya.
Oleh karena itu, maka sebenarnya upaya untuk memasyarakatkan teori-teori pendidikan sosial itu penting sekali artinya dalam rangka mengaitkan pendidikan dengan problematika masyarakat.
Beberapa faktor yang dipandang penting adalah sebagai berikut :
a.      Kemajuan Sosiologi
Kemajuan sosiologi itu tak lain adalah hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan tentang kemanusiaan dan akibat pertambahan penduduk maupun senantiasa bertambahnya tuntutan-tuntutan kehidupan seseorang.
Dengan semua itu dapat dikatakan, bahwa hubungan masyarakat dan pendidikan itu selalu ada dan akan terus ada. Karena, hal itu merupakan suatu kebiasaan hidup dan benar-benar telah digariskan di dalam kitab-kitab dan agama-agama, sejarah dan perkembangan bangsa-bangsa.
Akan tetapi lahirnya Sosiologi dan perkembangannya serta banyaknya studi-studi dalam berbagai aspeknya yang cukup banyak, maka mendalami lahirnya ilmu pendidikan modern dan perkembangannya dengan segi-segi kemasyarakatan maupun perihal lainnya yang cukup penting, tentu akan menjadikan dampak pendidikan dan pengajaran itu nampak lebih besar, serta menjadikan dampaknya terhadap masyarakat akan lebih luas dan kuat serta mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan pemeliharaan dan perhatiannya terhadap pendidikan dan pengajaran.
b.      Kemajuan Ilmu Jiwa (Psikologi)
Di saat kehidupan itu berkembang, maka tuntutan-tuntutan masyarakat itupun bertambah, ilmu pengetahuan terapan menjadi maju dan teknologi pun berkembang. Salah satu cabang dari ilmu pengetahuan terapan ini adalah Psikologi. Ilmu Psikologi ini termasuk suatu ilmu yang sangat diperlukan untuk mengadakan  studi berbagai masyarakat dan anggota-anggotanya dengan menolong seseorang agar perkembang dengan baik, mampu merealisir perbuatan yang pisitif di dalam masyarakat yang sedang berkembang, dan mendidiknya dengan pendidikan yang sesuai dengan masyarakat di mana dia hidup di dalamnya.
Akan tetapi yang paling banyak dia perhatikan tentang Psikologi dan seperangkat pembahasannya, yaitu mengenai problematika pendidikan dan pengajaran.
Untuk mewujudkan kesehatan jiwa, memperdalam studi tentang perihal tersebut adalah nampak penting sekali, yakni dengan jalan menyampaikan masalah tadi kepada anggota masyarakat pada umumnya  dan kepada para murid khususnya.
c.       Lahirnya Demokrasi
Untuk tersebar lausnya berbagai macam demokrasi dan filsafatnya, maka mendalami berbagai berbagai studi tentang hal itu, usaha keras berbagai masyarakat dan anggotanya untuk itu dan dirasakannya manfaat demokrasi dan filsafatnya bagi kemajuan dan ketentraman jiwa mereka, semua itu akan dapat menentukan hak dan berbagai kewajiban. Kebanyakan hukum atau undang-undang telah menetapkan aturan-aturan yang cukup banyak tentang suatu hukum yang dipegangi oleh berbagai bangsa mengenai masalah demokrasi pendidikan. Sehingga muncullah pendidikan dasar yang secara Cuma-Cuma dan bahkan merupakan sesuatu keharusan bagi setiap warga negara terdapat pada sebagian besar bangsa di dunia. Dalam hal ini, perlu adanya pembiasaan diri mengenai masalah demokrasi itu dengan jalan mendalami arti dan maksudnya. Hal itu tidak akan menjadi jelas sebelum kita melangkah maju ddan membiasakan diri dengan berbagai perbuatan yang demokratis.

2.3              Faktor-faktor Pendidikan
Dalam aktifitas pendidkan ada enam faktor pendidikan yang dapat membentuk pola interaksi atau saling mempengaruhi namun faktor integratirnya terutama terletak pada pendidik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya.
Keenam faktor pendidikan tersebut meliputi :
1.      Faktor Tujuan
Dalam praktek pendidikan, baik lingkungan keluarga, di sekolah maupun di masyarakat luas, banyak sekali tujuan pendidikan yang didinginkan oleh pendidik agar dapat dicapai olah peserta didiknya. Menurut Langeveld dalam bukunya Beknopte Teoritische Pedagogik dibedakan adanya macam-macam tujuan sebagai berikut :
a.       Tujuan umum
b.      Tujuan tak sempura (tak lengkap)
c.       Tujuan sementara
d.      Tujuan perantara
e.       Tujuan insidental
2.      Faktor Pendidik
Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi dua kategori, ialah :
a.       Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua
Merupakan pendidik pertama dan utama, karena secara kodrati anak manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan tidak berdaya. Hanya dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu) bayi (anak manusia) itu dapat hidup dan berkembang semakin dewasa. Hubungan orang tua dengan anaknya dalam hubungan edukatif, mengandung dua unsur dasar, yaitu :
1.      Unsur kasih sayang pendidik terhadap anak.
2.      Unsur kesadaran dan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun perkembangan anak.
b.      Pendidik menurut jabatan, ialah guru
guru sebagai pendidik menurut jabatan menerima tanggung jawab dari tiga pihak yaitu orang tua, masyarakat dan negara. Tanggung jawab dari orang tua diterima guru atas dasar kepercayaan, bahwa guru mampu memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan peserta didik dan diharapkan pula dari pribadi guru memancar sikap-sikap dan sifat-sifat yang normatik baik sebagai kelanjutan dari sikap dan sifat orang tua pada umumnya, antara lain:
1.      Kasih sayang kepada peserta didik.
2.      Tanggung jawab kepada tugas pendidik.
3.      Faktor peserta didik
Hal ini tergantung kepada konteks yang mendorong perkembangan seseorang. Ada empat konteks yang dapat disebutkan, yaitu :
a.       Lingkungan di mana peserta belajar secara kebetulan dan kadang-kadang, di sini mereka belajar tidak terprogram.
b.      Lingkungan belajar di aman peserta didik belajar secara sengaja dan dikehendaki.
c.       Sekolah di mana pendidikan optimal, di sekolah yang ideal di amna peserta dapat melakukan cara belajar siswa aktiv sekaligus menghayati/ mengmplisitkan nilai-nilai.
Secara teoretis peserta didik bisa berkembang scara optimal dalam arti mampu berkembang kreatif optimal, jika mendapat konteks lingkungan yang keempat tersebut.
4.      Faktor isi/ materi pendidikan
Yang termasuk dalam arti/ materi pendidikan ialah segala sesuatu oleh pendidik langsung diberikan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha pendidikan yang diselenggarakan di keluarga, di sekolah dan di masyarakat, ada syarat utama dalam pemilihan beban/ materi pendidikan, yaitu :
a.       Materi harus seuai dengan tujuan pendidikan.
b.      Materi harus dengan peserta didik.
5.      Faktor metode pendidikan
Peristiwa pendidikan ditandai dengan adanyainteraksi edukatif. Agar interaksi ini dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan, maka di samping dibutuhkan pemilihan bhan/ materi pendidikan yang tepat, perlu dipilih metode yang teoat pula.
6.      Faktor situasi lingkungan
Situasi lingkungan mempengaruhi proses dan hasiln pendidikan. Situasi lingkungan fisis, lingkungan teknis dan lingkungan. Dalam hal-hall di aman situasi lingkungan ini berpengaruh secara negatif terhadap pendidikan, maka lingkungan itu menjadi pembatas pendidikan.


Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok individu lain yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga oleh kelompok sekitarnya. Dalam proses untuk menjadi pribadi, individu dituntut mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia berada. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik dan non fisik (psikis).

2.4              Kedudukan Manusia dan Pendidikan
Hubungan antara pendidikan dan masyarakat terasa penting sekali sehingga merupakan bidang studi tersendriri di dalam Ilu Pendidikan. Hal itu tak lain merupakan akibat logis adanya pengembangan tujuan pendidikan bagi setiap orang untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang utuh baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang sehat jasmani dan rohaninya, berilmu pengetahuan dan bermoral. Cara yang ditempuh adalah dengan memenuhi berbagai kebutuhan minat para anak didik serta mempersiapkan mereka agar kelak menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat. Cara lain yang ditempuh yaitu dengan jalan mengaitkan mata pelajaran di sekolah dengan kebutuhan dan persoalan kehidupan masyarakat untuk mencari alternatif bagi penyelesaian persoalan-persoalan sosial yang timbul.
Agar manusia itu dapat hidup dengan baik di dalam masyarakatnya,  sesuatu yang dapat menolong kesuksesan bersama di masyarakat tersebut yakni kehidupannya sesuai  dengan lembaga-lembaga sosial yang memiliki bentuk, organisasi dan tujuan-tujuan yang sama. Kemudian orang tersebut, harus mengerjakan pekerjaannya bersama-sama anggota masyarakat dengan kemampuan dan tindakan yang positif. Dengan demikian, akan merasa menentu dan kokoh dalam hidup dan kehidupannya. Sebab dengan sikap demikian, akan menjadi senang dengan berbagai sistem dan tradisi-tradisi masyarakat yang ada maupun dengan berbagai sistem sosial, ekonomi, politik, hukum, yang satu sama lain berkaitan, sedangkan secara keseluruhan berkaitan juga dengan aneka ragam tingkah laku, pola berfikir dan berbagai aspirasi yang ditemukan oleh anggota masyarakat.
Semua sistem dan tradisi tersebut, ditemukan sebagai sesuatu tugas dan kewajiban bagi anggota masyarakat. Dan lazimnya manusia itu baru dapat melakukan sesuatu dengan adanya bimbingan mengenai peraturan dan pemeliharaan berbagai fasilitas dari seluruh anggota masyarakat.
Oleh karena itulah, muncul nya berbagai organisasi dan peraturan-peraturan itu untuk memelihara berbagai sistem sosial dan perkembangannya. Maka keluarga dan sekolah itu, tak lain merupakan dua dasar pokok dalam kehidupan kemasyarakatan yang mengasuh putra-putri dengan pendidikan dan pengajaran untuk mengarahkan tingkah laku dan pekerjaan mereka dengan berbagai tujuan yang disenanginya. Hal itu juga dimaksudkan untuk membentuk anggota masyarakat yang baik dan berguna. Sebab, mereka akan bekerja untuk mewujudkan tujuan-tujuan masyarakat yang cukup luas, baik maslah ekonomi, politik, kebudayaan, kemasyarakatan dan tujuan-tujuan lainnya.
Sebenarnya kita akan menjumpai, bahwa sistem pendidikan di sekolah itu berkaitan erat dengan berbagai sistem ekonomi, politik dan lain sebagainya dalam rangka membina dan mengembangkan masyarakat yang memiliki sistem yang lengkap dan menjadi tumpuan dari seluruh sistem lainnya maupun tujuan masyarakat itu sendiri. Maka, sebenarnya pola dan bentuk pendidikan yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain itu, tak lain adanya perbedaan bentuk/ sistem yang lengkap masyarakat tersebut maupun karena perbedaan tujuan dan berbagai sarana yang dipakai untuk mewujudkan tujuan tadi. Sebab pendidikan dalam kenyataan yang semacam ini adalah merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk anggota masyarakat yang berguna bagi masyarakatnya. Dengan kata lain dapat dikatakan, bahwa pendidikan itu sebenarnya merupakan bagian daribentuk budaya/ kebudayaan umum suatu masyarakat.
Sekalipun terdapat perbedaan mengenai tujuan umum pendidikan, hanyalah berbeda dalam hal sistem politik dan sistem lainnya, baik di dalam tujuan-tujuan khusus kelancaran pendidikan, sistem pendidikan, metode pengajaran maupun sarana-sarana atau fasilitasnya.
Sesuatu yang menghalangi adanya hubungan pendidikan dengan sistem politik itu, juga akan menghalangi sistem dan pola hidup masyarakat. Sebab, sejumlah masyarakat yang terdapat di dalamnya dapat dibedakan menjadi beberapa kelas dengan berbagai kelas lainnya yang memiliki suatu pola dan sistem pendidikan putra-putrinya dengan aneka ragam bentuk dan pola pendidikan juga.
Dengan keberhasilannya, suatu masyarakat akan menjadi media pendidikan yang akan mempengaruhi anggotanya, baik dalam hal tingkah laku, kemauan maupun pola berfikirnya. Masyarakat akan mempergunakan pendidikan itu sebagai sarana untuk mewujudkan berbagai aspirasi anggtota masyarakat, sesuai dengan tujuan, kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam pembatasan arti/ pengertian ini, masyarakat itu pada dasarnya bekerja hanyalah untuk menundukkan lingkungan dan menguasainya. Maka tatkala bertambah dalam arti berkembang pengertian tersebut akan menjadi bertambah luas pulalah arti pendidikan dengan seperangkat tanggung jawab yang dibebankan oleh masyarakat itu. Begitu pula, apabila hubungan dan pengaruh timbal balik antara pendidikan dan lingkungannya itu lebih erat dan mendalam, maka dapatlah mewujudkan tujuan-tujuan masyarakat itu dengan cara yang lebih mudah namun terdapat dampak yang lebih besar.
Selanjutnya, apabila pendidikan  masyarakat itu mementingkan pengaruh seseorang di dalam masyarakat maupun lingkungannya, baik dalam hal ini dari anggota masyarakat sendiri, kelompok-kelompok sosial, lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, tingkah laku dan berbagai tujuan lain, maka pendidikan tersebut jelas merupakan alat penentu dan pemberi arah dalam berbagai perubahan yang terjadi, baik kelompok yang terdapat di dalam masyarakat.
Sebab, pendidikan itu dengan pengertiannya yang baru adalah merupakan  suatu proses belajar mengajar yang berkesinambungan dan integral. Oleh karena itu, pendidikan haruslah merupakan proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mengarahkan dan mengembangkan berbagai tujuan hidup anggota masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pendidikan itu adalah merupakan suatu alat penyelamat dan pemberi arah mengenai perkembangan orang seorang maupun kelompok-kelompok sosial secara berkesinambungan.
Maka pendidikan itu senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan setiap perkembangan yang dituju oleh masyarakat. Demikian juga, pendidikan yang terdapat pada masyarakat-masyarakat tradisional. Adpun pendidikan masa sekarang yang cukup komplek berbagai sistem dan tuntunan maupun tujuannya itu, juga berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Perkembangan pendidikan itu sendiri merupakan sesuatu segi kekuatan di dalam melaksanakan proses pendidikan. Alasannya, karena sebenarnya pendidikan itu bertanggung jawab penuh mengenai perikehidupan anggota masyarakat, sejak awal hingga akhir hayatnya, baik dalam hal etika/ moral, kejiwaan, pelaksanaan ilmu pengetahuan mereka dan berbagai kemahiran atau ketrampilan/ kejuruan lainnya yang senantiasa berkembang. Akan tetapi, harus disertai upaya dengan tekun untuk menghadapi gejala apapun yang akan melemahkan sistem sosial bagi berbagai masyarakat yang akhirnya juga akan menghalangi pendidikan untuk merealisir berbagai tujuannya dalam rangka mengikuti dan memnuhi aneka ragam tuntutan hidup masyarakat.
Begitu pula, pendidikan itu bertanggung jawab mengenai pengenalan anggota masyarakat terhadap berbagai kelemahan bagai saran pemecahannya dalam rangka menghadapi berbagai tuntutan yang senantiasa berubah dan berkembang serta pengembangannya untuk mewujudkan berbagai tuntutan kehidupan.
Maka seakan-akan sistem pendidikan dan ketentuan/aturan berbagai kebutuhan dan tuntutannya itu akan mempengaruhi masyarakat dan menentukan sistem ekonomi dan politiknya. Dan tatkala sistem pendidikan itu merupakan bagian  dari berbagai sistem sosial yang ada, maka dikala  mengkaji hubungan suatu sistem pendidikan dengan sistem masyarakat.


BAB III
PENUTUP
3.1              Simpulan
Pendidikan bagi manusia dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat manusia mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan.
Dalam hal ini, terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangkan dalam aktivitas kegiatan di lapangan. Pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Tambahan pula, bahwa pendidikan seorang manusia mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh manusia, baik pria maupun wanita, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing.
Dengan demikian hal itu dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran seorang manusia yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar bersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil dari adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya. Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas, dalam hal pendidikan seorang manusia tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dibekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam pribadinya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungan.

3.2              Saran
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari kesempuraan. Saran kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah sehingga akan lebih bernanfaat kontibusinya bagi hazanah keilmuan. Wallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Shaleh Nazili. 1982. Pendidikan dan Masyarakat. BINA USAHA: Yogyakarta
Prof.Dr. Soedijarto, M.A. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Kompas Media Nusantara: Jakarta
Drs. H. Fuad Ihsan. 2005. Dasar-dasar Kependidikan. PT. Rhineka Cipta: Jakarta

Share this

0 Comment to "Kedudukan Manusia dan Pendidikan"

Post a Comment