Friday, May 10, 2013

Strategi Pembelajaran Ekspositori


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.                  Latar Belakang Masalah

Strategi pembelajaran suatu kebutuhan bagi seorang pengajar, guru, pendidik untuk melaksanakan tugas pembelajaran yang sehat, kreaktif, bermutu, mempercepat proses pembelajaran dengan hasil yang maksimal, meningkatkan kemampuan dasar siswa, meningkatkan hasil belajar, meningkatkan masyarakat belajar yang efektif.

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memadukan antara strategi mengajar, teknik mengajar, metode mengajar dan media yang digunakan untuk proses pembelajaran tersebut berlangsung dengan baik dan dapat di sesuaikan dengan materi pelajaran yang akan kita ajarkan kepada murid kita. Apabila tidak ada kesesuaian antara materi yang di ajarkan dengan strategi mengajar yang di terapkan oleh guru maka hasil dari pembelajaran tersebut tidak akan memuaskan.

B.                   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Apa yang dimaksud strategi pembelajaran ekspositori?

2.      Apa saja tujuan dan karakteristik strategi pembelajaran ekspositori?

3.      Apa saja yang menjadi prinsip strategi pembelajaran ekspositori?

4.      Apa kelebihan dan kelemahan strategi pembelajaran ekspositori?

5.      Bagaimana prosedur pelaksanaan strategi pembelajaran ekspositori?

C.                  Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1.      Menjelaskan pengertian strategi pembelajaran ekspositori.

2.      Menjelaskan tujuan dan karakteristik strategi pembelajaran ekspositori.

3.      Menyebutkan prinsip-prinsip strategi pembelajaran ekspositori.

4.      Menyebutkan kelebihan dan kelemahan strategi pembelajaran ekspositori.

5.      Menguraikan prosedur pelaksanaan strategi pembelajaran ekspositori.

D.                  Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pokok permasalahan, maka penulis menyusun makalah ini dengan sistematika sebagai berikut:

BAB    I           PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah

B.                Rumusan Masalah

C.                Tujuan Penulisan

D.                Sistematika Penulisan

BAB    II         PEMBAHASAN

A.                  Pengertian Strategi Pembelajaran Ekspositori

B.                   Tujuan dan Karakteristik Strategi Pembelajaran Ekspositori

C.                   Prinsip-prinsip Strategi Pembelajaran Ekspositori

D.                  Kelebihan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Ekspositori

E.                   Prosedur Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Ekspositori

BAB    III        PENUTUP

A.                 Simpulan

B.                  Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                     Pengertian Strategi Pembelajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal (Sanjaya dalam Ika Lestari 2013:45)

Dalam Direktorat Tenaga Kependidikan “ Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Dalam strategi ini materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakanakan sudah jadi. Karena strategi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan strategi chalk and talk”.

Dari defenisi yang dikemukakan para ahli diatas, penyusun menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran ekspositori adalah ” strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seseorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran secara optimal”.

B.                     Tujuan dan Karakteristik Strategi Pembelajaran Ekspositori

Metode pembelajaran ekspositori bertujuan memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah :

ü  Menyusun program pembelajaran;

ü  Memberi informasi yang benar;

ü  Pemberi fasilitas yang baik;

ü  Pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar,dan Penilai prolehan informasi.

 

Karakteristik strategi pembelejaran ekspositori yaitu:

1.      Strategi ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal.

2.      Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berfikir ulang.

3.      Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan. (Sanjaya dalam Ika Lestari, 2013:45)

 

C.                     Prinsip- prinsip Strategi Pembelajaran Ekspositori

Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran ekspositori diuraikan sebagai beriku:

1.      Beorientasi Pada Tujuan

Sebelum melakukan sebuah strategi instruksional atau strategi pembelajaran seyogyanya dilakukan penetapan tujuan pembelajaran yang dapat diukur dan berorientasi pada kemampuan siswa. Namun, strategi pembelajaran ekspositori tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan domain kognitif tingkat tinggi dikarenakan sifatnya yang hanya pemaparan sehingga sebaiknya tujuan pembelajaran yang dibuat berada pada domain kognitif tingkat rendah.

2.      Prinsip Komunikasi

Prinsip komunikasi sangat penting diperhatikan dalam strategi instruksional ini dikarenakan penekanannya pada proses penyampaian satu arah dari guru ke siswa. Gangguan dalam komunikasi (noise) sebisa mungkin dapat diminimalkan oleh guru sehingga penggunaan media pembelajaran, teknik, dan taktik  pembelajaran sangat penting untuk dilibatkan.

 

3.      Prinsip Kesiapan

Agar materi mudah masuk ke dalam benak siswa, maka seorang guru perlu mempersiapkan fisik dan psikis siswa. Guru juga perlu melakukan apersepsi untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan siswa terhadap materi yang akan diajarkan sehingga nantinya proses asimilasi dan akomodasi dari proses berfikir siswa dapat terjadi berkeseimbangan konsep baru dengan yang lama.

4.      Prinsip Berkelanjutan

Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut dikarenakan penyampaian yang cenderung dengan verbal maka guru harus memiliki kiat-kiat dalam menyampaikan materi pelajaran agar tidak menimbulkan ketidaktertarikan terhadap materi yang diajarkan karena pembelajaran bukan hanya berlangsung saat itu juga, akan tetapi untuk waktu yang selanjutnya. Ekspositori yang berhasil adalah manakala melalui proses penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) sehingga mendorong mereka untuk mencari dan menentukan atau menambah wawasan melaui proses belajar mandiri. (Sanjaya dalan Ika Lestari, 2013: 45-46)

 

D.                     Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Ekspositori

1.      Keunggulan / kelebihan

Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.

a)      Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.

b)      Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).

c)      Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi  pembelajaran ekspositori ini dilakukan melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Karena itu sebelum strategi ini diterapkan terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan terukur. Hal ini sangat penting untuk dipaham, karena tujuan yang spesifik memungkinkan untuk bisa mengontrol efektivitas penggunaan strategi pembelajaran.

2.      Kelemahan / kekurangan

Disamping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran ekspositori ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain :

a)      Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik, untuk siswa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi yang lain.

b)      Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.

c)      Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.

d)     Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi) dan kemampuan mengelola kelas, tanpa itu sudah pasti proses pembelajaran tidak mungkin berhasil.  

Oleh karena itu, gaya komunikasi strategi pembelajaran ekspositori lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa sangat terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.

 

E.                     Prosedur Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Ekspositori

Prosedur perlaksanaan stratgei pembelajaran Ekspositori dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Rumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

2.      Kuasai materi pelajaran dengan baik.

3.      Kenali medan dengan berbagai hal yang dapat memengaruhi proses penyampaian dengan beberapa langkah:

a.       Persiapan

1)     Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif.

2)     Mulailah dengan mengungkapkan tujuan yang harus dicapai.

3)     Bukalah file dalam otak siswa.

b.      Penyajian

1)    Penggunaan bahasa.

2)    Intonasi suara.

3)    Manjaga kontak mata dengan siswa.

4)    Menggunakan joke-joke yang menyegarkan.

c.       Korelasi

d.      Menyimpulkan

e.       Mengaplikasikan. (Sanjaya dalam Ika Lestari, 2013:46)

 


BAB III

PENUTUP

 

A.                Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan penjelasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa:

1.     Strategi pembelajaran ekspositori adalah, strategi pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah.

2.     Karakteristik strategi pembelajaran ekspositori yaitu, penyampaian pembelajaran secara verbal, di tujukan agar siswa menguasai materi, materi yang disampaikan merupakan mata pelajaran yang sudah jadi berupa data atau fakta serta berupa konsep, bertujuan secara umum, penguasaan materi, pelajaran itu sendiri.

3.     Prinsip strategi pembelajaran ekspositori 1) Orientasi pada tujuan, 2) prinsip komunikasi, 3) prinsip kesiapan, 4) prinsip berkelanjutan.

4.     Kelebihan strategii pembelajaran ekspositori guru dapat mengontrol siswa lebih luas, efektif, penuntun dan observasi (demonstrasi), dan dapat digunakan untuk jumlah siswa yang banyak.

5.     Kekurangan strategi pembelajaran ekspositori, efektif dilakukan dengan siswa berkemampuan mendengar yang baik, tidak dapat melayani berbaga perbedaan, sulit mengembangkan kemampuan  siswa berupa hubungan sosial, hubungan interpersonal, berfikir kritis, keberhasilan siswa sangat tergantung pada guru, serta komunikasi hanya satu arah.

6.     Prosedur pelaksanaan strategi pembelajaran ekspositori yaitu:

a.       Merumuskan tujuan yang hendak dicapai.

b.      Menguasai materi dengan baik

c.       Mengenali tempat, dan pengaruh proses pembelajaran

Melalui langkah-langkah : 1)persiapan (preparation) 2)penyajian (presentation) 3)menghubungkan (corelation) 4)menyimpulkan (generalization) 5)penerapan (application).

B.                 Saran

Dengan adanya Strategi Pembelajaran Ekspositori diharapkan guru dapat menerapkan strategi ini dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai semaksimal mungkin. Dibalik itu juga seorang guru harus menguasai/ memahami tentang konsep dan prinsip penggunaan strategi pembelajaran ekspositori itu sendiri agar penerapan dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar. Selain itu juga seoarang guru harus memahami keunggulan dan kelemahan dari strategi pembelajaran ekspositori itu, dengan memahami maka guru dapat menerapkan dari keunggulan itu dan dapat menghindari dari kelemahan yang ada dan jika bisa dapat mencari jalan keluar agar kelemahan itu dapat teratasi.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Ika Lestari. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Jakarta : Akademia Permata

Martinis. Yamin. 2012. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press

Martinis. Yamin,. 2010. Desain Pembelajaran Berbasis Kompetensi Satuan Pendidikan. Jakarta : Gaung Persada Press

Sanjaya. Wina,. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pensisikan. Jakarta : Kencana

Artikel Pendidikan,. Stratgei Pembelajaran Ekspositori. http://hipni.blogspot/2011/09/strategi-pembelajaran-ekspositori.html, diakses tanggal 03 mei 2013 

Hubungan Bimbingan dan Konseling dan Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt, Rabb semesta alam. Tidak ada daya dan upaya selain dari Nya. Semoga kita selalu dilimpahkan rahmat dan karunia Nya dalam mengarungi kehidupan ini.

Salawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman di manapun mereka berada.

Alhamdulillah dengan izin dan kehendak dari-Nyalah, sehingga makalah ini dapat kami selesaikan. Makalah ini kami beri judul “Hubungan Bimbingan dan Konseling dan Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan. Dalam makalah dijelaskan tentang Pengertian Bimbingan dan Konseling, Hubungan Bimbingan dan Konseling, Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan gambaran tentang materi yang harus selesaikan dan juga semua pihak yang turut membantu menyelesaikan makalah ini.

Terakhir, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini lebih sempurna pada masa yang akan datang.

 

                                                                        Jambi,       Mei 2013

 

 

                                                                                  Penyusun

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.                Latar Belakang Masalah

Setiap insan yang lahir ke dunia memerlukan pengembangan untuk menjadikan manusia seutuhnya sebagaimana dikehendaki. Pengembangan tersebut pada dasarnya adalah upaya memuliakan kemanusiaan yang telah terlahir itu.

Upaya pengembangan manusia tidak lain adalah untuk mengembangkan segenap potensi yang ada pada diri manusia secara individu dalam segenap dimensi kemanusiaanya, agar ia menjadi manusia yang seimbang antara kehidupan individual dan sosialnya, kehidupan jasmaniah dan rohaniyah serta kehidupan dunia dan akhirat.

 

B.                 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat dirancang rumusan masalah sebagai berikut:

1.      Apa pengertian Bimbingan dan Konseling?

2.      Apa hubungan Bimbingan dan Konseling?

3.      Bagaimana kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan?

4.      Bagaimana hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan?

 

C.                Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1.      Menjelaskan pengertian Bimbingan dan Konseling.

2.      Menguraikan hubungan Bimbingan dan Konseling.

3.      Menjelaskan keududukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan.

4.      Menjelaskan hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan.

 

 

D.                Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pokok permasalahan, maka penulis menyusun makalah ini dengan sistematika sebagai berikut:

BAB    I           PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah

B.                Rumusan Masalah

C.                Tujuan Penulisan

D.                Sistematika Penulisan

BAB    II         PEMBAHASAN

A.                Pengertian Bimbingan dan Konseling

B.                Hubungan Bimbingan dan Konseling

C.                Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan

D.                Hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan

BAB    III        PENUTUP

A.                Kesimpulan

B.                Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                Pengertian Bimbingan dan Konseling

Pengertian bimbingan menurut Frank Parson (1951: 23) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan yaitu bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya.

Dunsmoor and Miller (1969: 71) menjelaskan bahwa bimbingan yaitu suatu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk memperoleh penyesuaian yang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan.

Prayitno (1978: 21) membagi kepada beberapa kriteria, antara lain:

1.      Bimbingan adalah usaha pemberian bantuan

2.      Bimbingan diberikan kepada orang-orang dari berbagai usia

3.      Bimbingan diberikan oleh tenaga ahli

4.      Bimbingan bertujuan untuk perbaikan kehidupan orang yang dibimbing, yaitu untuk:

a.       Mengatur kehidupan sendiri

b.      Mengembangkan atau memperluas pandangan

c.       Menetapkan pilihan

d.      Mengambil keputusan

e.       Memikul beban kehidupan

f.       Menyesuaikan diri

g.      Mengembangkan kemampuan

5.      Bimbingan diselenggarakan berdasarkan prinsip demokrasi

6.      Bimbingan merupakan bagian pendidikan secara keseluruhan

Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan bimbingan merupakan proses layanan yang diberikan kepada individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan, rencana, dan interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. Dengan kata lain, bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu.

Berikut ini akan dijelaskan pengertian konseling. Prayitno (1982) mengemukakan bahwa konseling mempunyai pengertian pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh yang berisi usaha laras, unik dan hubungan yang di lakukan dalam suasana keahlian dan didasarkan norma-norma yang berlaku.

Kemudian Shertzer dan Stone (1974: 54) mengemukakan bahwa konseling adalah proses di mana konselor membantu klien membuat interpretasi tentang fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana atau penyesuaian yang perlu dibuatnya.

Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang, dimana konselor melalui kemampuan khususnya menyediakan situasi belajar, dan bibantu untuk memahami diri sendiri, keadaan sekarang, kemungkinan masa depan yang dapat ia ciptakan melalui potensi yang dimilikinya demi kesejahteraan pribadi, masyarakat, serta dapat belajar memecahkan masalah dan menemukan kebutuhan mendatang.

 

B.                 Hubungan Bimbingan dan Konseling

Dalam mencapai semua pengembangan potensi yang ada pada manusia tidak terlepas dari upaya layangan bimbingan dan konseling, karena bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada klien, dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan, dalam arti kata mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Ponpon Harahap (1981) mengatakan bahwa konseling itu merupakan alat yang paling penting dalam keseluruhan program bimbingan. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa hubungan antara bimbingan dengan konseling itu sangat erat sekali. Dari satu segi dapat kita lihat bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan terhadap seseorang atau kelompok orang, dan dari segi lain konseling merupakan alat dalam pemberian bimbingan, di samping alat-alat yang lain. Namun demikian konseling merupakan alat yang utama dan paling ampuh dalam keseluruhan program bimbingan atau dengan kata lain konseling merupakan titik sentral dari keseluruhan kegiatan bimbingan.

 

C.                Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan

Secara formal kedudukan bimbingan dan konseling ada dalam Sistem Pendidikan di Indonesia, antara lain :

a)      UU No. 2 tahun 1989 bab I pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa :

“Pendidikan adalah usaha sadar menyiapkan peserta didik melalui bimbingan dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”

b)      PP No. 28 untuk SD dan PP No. 29 untuk SMP dan SMA tahun 1990 Bab X pasal 25 ayat 1 yang menyatakan :

“Bimbingan adalah bantuan peserta didik untuk memahami diri, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”

“Bimbingan dilaksanakan oleh guru pembimbing”

c)      UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 6

“Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, dan konselor, widyaiswara, pamong belajar, fasilitator dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”

 

Tiga bidang utama pendidikan  dijelaskan sebagai berikut:

1.      Bidang Administrasi dan Kepemimpinan

Bidang ini menyangkut kegiatan pengelolaan program secara efisien. Pada bidang ini terletak tanggung jawab kepemimpinanan (kepala sekolah dan staf administrasi lainnya) yang terkait dengan kegiatan perencanaan organisasi, deskripsi jabatan atau pembagian tugas,  pembiayaan, penyediaan fasilitas atau sarana prasarana (material), supervisi, dan evaluasi program.

2.      Bidang intruksional dan kurikuler

Bidang ini terkait dengan kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan sikap. Pihak yang bertanggung jawab secara langsung terhadap bidang ini adalah para guru.

3.      Bidang Pembinaan Siswa (Bimbingan dan Konseling)

Bidang ini terkait dengan program pemberiaan layanan bantuan kepada peserta didik (siswa) dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal, melalui  interaksi yang sehat dengan lingkungannya. Personel yang paling bertanggung  jawab terhadap pelaksanaan bidang ini adalah guru pembimbing atau konselor.

jelaslah bahwa bimbingan dan konseling tidak sekedar tempelan saja. Layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dan strategis. Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif.

Dari penjelasan di atas dan keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada tatanan persekolahan, layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dan strategis. Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif. Untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pribadi agar dapat membantu keseluruhan proses belajarnya. Dalam kaitan ini para pembimbing diharapkan untuk:

a)      Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individual maupu kelompok,

b)      Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar,

c)      Memberi kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakter istik  pribadinya,

d)     Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya,

e)      Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan.

Berkenaan dengan hubungan antara bimbingan dan pendidikan tersebut di atas, Rochma Natawidjaja (1990: 16) Memberikan penjelasan sebagai berikut:

“...bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan posisi kunci dalam pendidikan di sekolah, yaitu sebagai pendamping fungsi utama sekolah dalam bidang pengajaran dan perkembangan intelektual siswa dalam bidang menangani ihwal sisi sosial pribadi siswa..”

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa bimbingan dan konseling memiliki fungsi memberikan bantuan kepada siswa dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan pendidikan, yaitu membantu meratakan jalan menuju ALLAH Swt.; berguna bagi manusia, dan bermanfaat bagi kesejahteraan dan pembangunan bangsa, negara, dan umat manusia.

 

D.                Hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan

1.      Bimbingan dan Pendidikan

Bimbingan dengan pendidkan tidak ada perbedaan yang prinsip. Namun bimbingan tidak identik dengan pendidikan. Kegiatan bimbingan tidak dapat di pisahkan dari kegiatan pendidikan , secara keseluruhan. Sehingga pelaksanaan bimbingan yang baik akan menjadi salah satu factor keberhasilan dari kegiatan pendidikan. Untuk mencapai tujuan yang maksimal dari segala pendidikan, dituntut adanya pelayanan bimbingan di sekolah.

2.      Hubungan antara Bimbingan dan Pendidikan

Ada lima pola hubungan fungsional antara bimbingan dengan pendidikan, bimbingan identik dengan pendidikan, bimbingan sebagai pelengkap pendidikan, pola kurikuler bimbingan dan konseling, pola layanan, urusan, kesiswaan, dan bimbingan sebagai subsistem pendidikan pendidikan (Tohari Musnamar).

Sedang Moh. Surya mengatakan: “ Dalam bidang pendidikan bimbingan mendapat tempat dan peranan yang amat penting dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Bimbingan dipandang sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen lainya”.(Moh.Surya dalam Zainal Aqif, 2012: 31)

3.    Hubungan bimbingan dan konseling dalam Pendidikan

Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. harapan tersebut seringkali kandas dan tidak terwujut, karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan. maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajr. untuk mengatasi masalah kesulitan belajar maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.

a)      Bimbingan Belajar

Bimbingan ini di maksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan belajar baik di sekolah maupun diluar sekolah. bimbingan ini antara lain meliputi :

1.      cara belajar, baik secara kelompok maupun individual

2.      cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar

3.      efesiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran

4.      cara mengatasi kesulitan-kesuitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu

5.      cara, proses dan prosedur tentang mengikuti pelajaran

b)     Bimbingan Sosial

dalam proses belajar dikelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok. bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memecahakan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah sosial, sehingga terciptalah suasana belajar mengajar yang kondusif.

 

c)      Bimbingan dalam Mengatasi Masalah-Masalah Pribadi

Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadinya, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. siswa yang mempunyai masalah dan belum dapat diatasi atau dipecahkan, akan cenderung mengganggu konsentrasinya dalam belajar, akibat prestasi belaar yang di capai rendah.


BAB III

PENUTUP

 

A.                Kesimpulan

Bimbingan konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseling merasa bahagia dan efektif perilakunya.

Hubungan antara bimbingan dengan konseling itu sangat erat sekali. Dari satu segi dapat kita lihat bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan terhadap seseorang atau kelompok orang, dan dari segi lain konseling merupakan alat dalam pemberian bimbingan, di samping alat-alat yang lain.

Secara formal kedudukan bimbingan dan konseling ada dalam Sistem Pendidikan di Indonesia, antara lain :

a)      UU No. 2 tahun 1989 bab I pasal 1 ayat 1

b)      PP No. 28 untuk SD dan PP No. 29 untuk SMP dan SMA tahun 1990 Bab X pasal 25 ayat 1

c)      UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 6

Dalam bidang pendidikan bimbingan mendapat tempat dan peranan yang amat penting dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Bimbingan dipandang sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen lainya

B.                 Saran

Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari kesempuraan. Saran kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah sehingga akan lebih bernanfaat kontibusinya bagi hazanah keilmuan. Wallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA

 

Tohirin,. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA

Furqon,. 2005. Konsep Aplikasi Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung : Pustaka Bany Quraisy

Mamat. Supriatna,. 2001. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi.  Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA

Hidayat,. 2010. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Surabaya : CV. Putra Media Nusantara