Wednesday, September 14, 2016

SASARAN PENDIDIKAN ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Oleh karena itu, dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntutan masyarakat.
Menurut keyakinan kita, sejarah pembentukan masyarakat dimulai dari keluarga Adam dan Hawa sebagi unit terkecil dari masyarakat di muka bumi ini. Dalam keluarga tersebut telah dimulai proses kependidikan umat manusia, meskipun dalam ruang lingkup terbatas sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Dasar minimal usaha mempertahankan hidup manusia terletak pada tiga orientasi hubungan manusia, yaitu:
1.      Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Pencipta sekalian alam.
2.      Hubungan dengan sesama manusia.
3.      Hubungan dengan alam sekitar, terdiri berbagai unsur kehidupan, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan kekuatan alamiah yang ada.
Dari prinsip hubungan inilah, kemudian manusia mengembangkan proses pertumbuhan kebudayaannya. Proses inilah yang akan mendorong manusia ke arah kemajuan hidup sejalan dengan tuntutan zaman. Untuk sampai kepada kebutuhan tersebut diperlukan satu pendidikan yang dapat mengembangkan kehidupan manusia dalam dimensi daya cipta, rasa, dan karsa masyarakat beserta anggota-anggotanya.
Dengan demikian antara pendidikan dan masyarakat terus berkompetisi untuk maju. Itulah salah satu ciri dari masyarakat yang dinamis dengan pendidikan sebagai salah satu tumpuan kemajuan perkembangan hidupnya.
Pendidikan Islam berusaha merealisasikan misi agama Islam dalam tiap pribadi manusia, yaitu “menjadikan manusia sejahtera dan bahagia dalam cita Islam”. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam surah Ali Imran ayat 190-191:    
190.   Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191.   (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Dengan demikian jelas, bahwa Islam menyuruh manusia melaksanakan pendidikan terhadap anak-anaknya, berdasarkan pandangan bahwa anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan, memiliki kemampuan dasar yang dinamis dan tanggap terhadap pengaruh dari luar dirinya, sehingga dalam proses pendidikan tidak perlu terjadi sikap otoriter, karena perbuatan demikian berlawanan dengan fitrah Allah, yaitu kemampuan dasar menusia yang bisa berkembang sejalan dengan faktor-faktor yang memepengaruhinya.

B.                 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian singkat dalam latar belakang, pemakalah mengajukan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa yang di maksud dengan Ilmu Pendidikan Islam
a.       Secara Bahasa, dan
b.      Istilah
2.      Apa yang menjadi pokok sasaran dalam pendidikan Islam?

C.                Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam.
a.       Secara Bahasa, dan
b.      Istilah
2.      Menyebutkan beberapa hal yang menjadi sasaran dalam pendidikan Islam.

D.                 Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pokok permsalahan, maka penulis menysun makalah ini dengan sistematika sebagai berikut:
BAB    I           PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
B.                 Rumusan Masalah
C.                 Tujuan Penulisan
D.                Sistematika Penulisan
BAB    II         PEMBAHASAN
A.                Pengertian Pendidikan Islam
1.      Pengertian Bahasa
2.      Pengertian Istilah
B.                Sasaran Dalam  Pendidikan Islam
BAB    III        PENUTUP
A.                Simpulan
B.                Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

A.                Pengertian Pendidikan Islam
1.      Pengertian Bahasa
Pengertian pendidikan dari segi bahasa, maka kita harus melihat kepada kata Arab karena ajaran itu diturunkan dalam bahasa tersebut. Kata “pendidikan”  yang umum kita gunakan sekarang dalam bahasa Arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja  “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa Arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “ ‘allama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya “tarbiyah wa ta’lim” sedangkan “Pendidikan Islam” dalam bahasa Arabnya adalah “Tarbiyah Islamiyah”.
2.      Pengertian Istilah
Pengertian pendidikan seperti yang lazim dipahami sekarang belum terdapat di zaman Nabi. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptaan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembetukan pribadi muslim itu, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang. Dengan demikian, secara umum dapat kita katakan bahwa Pendidikan Islam itu adalah pembentukan kepribadian muslim.
Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim  yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.

Pendidikan secara teoretis mengandung pengertian “memberi makan” (opveoding) kepada jia anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Bila ingin di arahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam maka harus berproses melalui sistem kependidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikuler.
Bila pendidikan Islam kita artikan sebagai proses, maka diperlukan adanya sistem dan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai dengan proses melalui sistem tertentu. Hal ini karena proses pendidikan tanpa sasaran dan tujuan yang jelas berarti suatu oportunisme, ayang akan menghilangkannilai hakiki pendidikan.
Bila pendidikan diartikan sebagai latihan mental, moral, dan fisik yang bisa menghasilkan manusia berbudaya tinggi maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggunng jawab. Usaha  kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia.
Untuk tujuan itulah, manusia harus dididik melalui proses pendidikan Islam. Berdasarkan pandangan di atas, pendidikan islami berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.
Dengan kata lain, manusia yang mendapatkan pendidikan Islam harus mampu  hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam.
Dengan demikian pengertian pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.

B.                 Sasaran Pendidikan Islam
Sasaran pendidikan berbeda-beda menurut panadangan hidup masing-masing pendidik atau lembaga  pendidikan. Oleh karenanya perlu dirumuskan pandangan hidup Islam yang mengarahkan sasaran pendidikan Islam.
Oleh karena itu, bila manusia yang berpredikat muslim, benar-benar akan menjadi penganut agama yang baik, menaati ajaran Islam dan menjaga agar rahmat  Allah tetap berada pada dirinya. Ia harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarannya sesuai iman dan akidah islamiah.
Salah satu aspek penting dan mendasar dalam pendidikan adalah aspek tujuan. Merumuskan tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam mendefiniskan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip prinsip dasarnya. Hal tersebut disebabkan pendidikan adalah upaya yang paling utama, bahkan satu satunya untuk membentuk manusia menurut apa yang dikehendakinya. Karena itu menurut para ahli pendidikan, tujuan pendidikan pada hakekatnya merupakan rumusan-rumusan dari berbagai harapan ataupun keinginan manusia.[1]
Maka dari itu berdasarkan definisinya, Rupert C. Lodge dalam philosophy of education menyatakan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman. Sehingga dengan kata lain, kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan itu. Sedangkan Joe Pack merumuskan pendidikan sebagai “the art or process of imparting or acquiring knomledge and habit through instructional as study”. Dalam definisi ini tekanan kegiatan pendidikan diletakkan pada pengajaran (instruction), sedangkan segi kepribadian yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan. Theodore Meyer Greene mengajukan definisi pendidikan yang sangat umum. Menurutnya pendidikan adalah usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk suatu kehidupan yang bermakna. Alfred North Whitehead menyusun definisi pendidikan yang menekankan segi ketrampilan menggunakan pengetahuan.[2]
Untuk itu, pengertian pendidikan secara umum, yang kemudian dihubungkan dengan Islam -sebagai suatu sistem keagamaan- menimbulkan pengertian pengertian baru yang secara implisit menjelaskan karakteristik karakteristik yang dimilikinya. Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya, dalam konteks Islam inheren salam konotasi istilah “tarbiyah”, “ta’lim” dan “ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah itu mengandung makna yang amat dalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah istilah itu sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; informal, formal, dan nonformal.[3]
Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.[4]
Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur, dinamis, harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”, yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil, damai, taat hukum, dinamis, dan harmonis.[5]
Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Bila dilihat dari ayat-ayat al Qur’an ataupun hadits yang mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan, terdapat beberapa macam tujuan, termasuk tujuan yang bersifat teleologik itu sebagai berbau mistik dan takhayul dapat dipahami karena mereka menganut konsep konsep ontologi positivistik yang mendasar kebenaran hanya kepada empiris sensual, yakni sesuatu yang teramati dan terukur.[6]
Qodri Azizy menyebutkan batasan tentang definisi pendidikan agama Islam dalam dua hal, yaitu; a) mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam; b) mendidik peserta didik untuk mempelajari materi ajaran Islam. Sehingga pengertian pendidikan agama Islam merupakan usaha secara sadar dalam memberikan bimbingan kepada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan ajaran Islam dan memberikan pelajaran dengan materi-materi tentang pengetahuan Islam.[7]
Sasaran strategis pendidikan Islam adalah menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai agama dan nilainilai ilmu pengetauan secara mendalam dan luas dalam pribadi anak didik, sehingga akan terbentuk dalam dirinya, sikap beriman dan bertakwa dengan kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan istilah lain sasaran pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Sasaran pendidikan menyangkut masalah spikologis dan fisiologis. Oelh karena itu, pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari psikologi, terutama psikologi pendidikan. Dalam hubungannya dengan proses menamakan nilai-nilai agama dan membimbing ke arah kehidupan beragama, ilmu pendidikan Islam juga memerlukan peran psikologi agama, karena psikologi agama mengkaji tentang tingkat-tingkat kemampuan anak dalam menerima nilai-nilai agama beserta kepekaanny (sensitivitasnya) terhadap penerimaan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan islam perlu meiliki pandangan yang sesuai dalam praktik dan memiliki kelenturan dalam teori-teori kependidikan, ia juga merupakan eksperimentasi teori pendidikan Islam, yang bertugas memfungsionalkan ide-ide kependidikan dalam proses pelaksanaan baik dalam bentuk formal, seperti di sekolah maupun nonformal seperti di majlis taklim, pondok pesantren, dan pendidikan keluarga.
Dengan demikian jelaslah bahwa fungsi ilmu pendidikan Islam praktis mencakup tiga tugas, yaitu :
1.      Melakukan pembuktian terhadap teori-teori kependidikan Islam yang merangkum aspirasi atau cita-cita Islam yang harus diikhtiarkan agar menjadi kenyataan.
2.      Memberikan bahan-bahan informasi tentang pelaksanaan pendidikan dalam segala aspeknya bagi pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan Islam tersebut.
Mekanisme proses kependidikan Islam dari segi operasional dapat disamakan dengan proses mekanisme yang berasal dari penerimaan input (bahan masukan), lalu diproses dalam kegiatan pendidikan, kemudia berakhir pada output (hasil yang diharapkan). Dan hasil yang diharapkan itu timbul umpan balik (feerback) yang mengoreksi bahan masukan (input). Mekanisme proses semacam ini berlangsing terus menerus selama proses kependidikan terjadi. Semakin banyak diperoleh bahan masukan (input) dari pengalaman operasional itu, semakin berkembang pula ilmu pendidikan Islam.
3.      Di samping itu juga menjadi pengoreksi terhadap kekurangan teori-teori yang dipegangi oleh ilmu pendidikan Islam, sehingga kemungkinan pertemuan antara teori dan praktik semakin dekat, dan hubungan antara keduanya maken bersifat interaktif (saling mempengaruhi).
Sasaran pendidikan Islam secara teori maupun praktik harus mampu memberikan pandangan yang tepat dan terarah tentang kemungkinan-kemungkinan yang objektif dari proses pertumbuhan dan perembangan manusia. Hal demikian menuntut ilmu pendidikan Islam baik teoretis maupun praktis untuk menetapkan kaidah atau pedoman konsepsional dan operasional yang dapat menunjukkan alternatif-alternatif dalam proses mengarahkan pertumbuhan  dan perkembangannya menuju ke arah kedewasaan individualitas (kemandirian pribadi), sosialitas (kemampuan bermasyarakat), dan moralitas (kemampuan berakhlak susila).
Sejalan dengan misi agama Islam yang bertujuan memberikan rahmat bagi sekalian makhluk di alam ini, pendidikan Islam mengidentifikasikan sasarannya pada empat pengembangan fungsi manusia, yaitu:3
1.      Menyadarkan manusia sebagai makhluk individu, yaitu makhluk yang hidup di tengah makhluk-makhluk lain, manusia harus bisa memerankan fungsi dan tanggung jawabnya, manusia akan mampu berperan sebagai makhluk Allah yang paling utama diantara makhluk lainnya dan memfungsikan sebagai khalifah di muka bumi. Malaikat pun pernah bersujud kepadanya, karena manusia sedidikit lenih tinggi kejadiannya dari malaikat, yang hanya terdiri dari unsur-unsur rohaniah, yaitu “nur illahi”. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur rohani dan jasmani.
Firman Allah menunjukkan kedudukan  manusia tersebut sebagai berikut :
71.  (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah".
72.  Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".

Beban tanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakat sebagai konsekuensi kedudukannya dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:
15. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

2.      Menyadarkan  fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk (Homo sosius) manusia harus mengadakan interrelasi dan interaksi dengan sesamanya dalam  kehidupan bermasyarakat. Itulah sebabnya Islam mengajarkan tentang persamaan, persaudara, gotong royong, dan musyawarah sebagai upaya membentuk masyarakat menjadi suatu persekutuan hidup yang utuh. Prinsip hidup bermasyarakat demikian dikehendaki oleh Allah dalam firman-Nya.

103.    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
10.      Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
3.      Menyadarkan, manusia sebagai hamba Allah SWT. Manusia sebagai Homo divinans (makhluk yang berketuhanan), sikap dan watak religiusitasnya perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu menjiwai dan mewarnai kehidupannya. Dalam fitrah manusia telah diberi kemampuan untuk beragama. Hal ini sebagaimana pendapat seorang sarjana Barat, C.G. Jung, yang memandang kemampuan beragama sebagai naturaliter religiosa (naluri beragama).
Firman Allah yang menyadarkan posisi manusia sebagai hamba-Nya yang harus beribadah kepada-Nya antara lain:
102.     (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.
103.     Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.

BAB III
PENUTUP

A.                Simpulan
Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim  yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Sasaran strategis pendidikan Islam adalah menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai agama dan nilainilai ilmu pengetauan secara mendalam dan luas dalam pribadi anak didik, sehingga akan terbentuk dalam dirinya, sikap beriman dan bertakwa dengan kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan istilah lain sasaran pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia untuk mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Pendidikan Islam mengidentifikasikan sasarannya pada empat pengembangan fungsi manusia, yaitu:
1.      Menyadarkan manusia sebagai makhluk individu.
2.      Menyadarkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial.
3.      Menyadarkan, manusia sebagai hamba Allah SWT

B.                 Saran
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari kesempuraan. Saran kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah sehingga akan lebih bernanfaat kontibusinya bagi hazanah keilmuan. Wallahu a’lam.




DAFTAR PUSTAKA

Arifin, H.M. 2006. Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner). Jakarta: Bumi Aksara
Arifin, H.M. 2006. Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Multidisipliner). Jakarta: Bumi Aksara
Daradjat, Zakiah, Dr.dkk.  2004., Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara
D. Marimba, Ahmad, Drs. 1962., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam.
 Bandung : Al-Ma’arif

[1] Hilda Taba dalam Munzir Hitami, Ibid, hal. 32 
[2] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002, hal. 6
[3] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002, hal. 5
[4] Sulaiman, dalam Ibid, hal. 33
[5] Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI, hal. 142
[6] Munzir Hitami, Op. Cit, hal. 32
[7] Ahmad Qodri Azizy, Islam dan Permaslahan Sosial; Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 22

Share this

0 Comment to "SASARAN PENDIDIKAN ISLAM"

Post a Comment